GARUDA “HANYA” ADA DI DADA BUKAN DI HATI
Sore ini, setelah
terbangun dari pulau mimpi siang, saya langsung menuju dapur dan membuka kulkas
mungkin saja masih ada ketupat yang masih tersisa. Sayangnya, mereka semua
sudah ludes tanpa tersisa. Rumah sangat sepi sekali siang ini (padahal biasanya
yo sepi)..hahaha. bapak ibu biasa “ngecepret” ria. Setelah dapat makanan, seperti biasa langsung menuju “kotak
idiot” yang selalu keluar gambarnya. Okay, sepiring nasi sayur asem ikan padet goreng
plus kerupuk kupang di tangan kiri dan tangan kanan sambil memainkan remot
tv. Pindah-pindah channel siapa tau ada
Kakak Rumana memberi salam buat aku (hahaa ngarep dari pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji, encene sangat
berharap sehh..hhaha). Jari jemari terhenti
ketika ada film Indonesia yang diputar di salah satu stasiun tv
Indonesia yang lambangnya burung itu.
Jujur, aku tidak
terlalu suka dengan film Indonesia (bukan berarti aku ga nasionalis lho ya, aku
masih tetep cinta produk anak negeri kok, hehe)
karena kalau menurut aku, kebanyakan film-film itu hanya menjual air
mata. Dan ini yang tidak aku suka, banyak ngenesnya daripada dapat value nya dari film Indonesia. Itu sih
kalau pendapat aku lhoo tentang film Indonesia, sorry bagi penggemar fanatik
film Indonesia. Nah.. yang aku tonton sore ini Garuda di Dadaku 2, dalam hati aku…halaahh film ngenes mane…film khayalan iki ….lhaaa bal-bal an ae ga tau
menang….sambil menghabiskan sepiring lunch
meal sebener e yo ga lunch lha wong
wes jam tiga sore. Makanan di tangan telah habis dan terus menonton film ini
hingga selesai.
Sebagai mantan
mahasiswa sastra, pemikiran analisis waktu kuliah dulu kok mulai berkecamuk di
pikiran. Film ini menurut aku yang notabene mahasiswa sastra yang pas-pas an
adalam film yang bermimpi berdasarkan kenyataan yang ada. Setelaha aku konsultasi
ke mbah Google untuk cari tahu
bagaimana jalan cerita sekuel yang pertama. Ternyata alur ceritanya tidak jauh
berbeda yang hanya menjual mimpi kenyataan, memproduksi rasa semangat, dan ya
bisa dikatakan sebagai pembangkit rasa nasionalisme serta harapan buat sepak
bola Indonesia. Dari judul film ini sudah terlihat jelas bagaimana sang penulis
cerita ingin menyampaikan pesan personifikasi lewat sosok sang Garuda. Aku ga
lihat film ini dari awal tapi menurut pemikiranku yang sangat awam, Garuda di Dadaku
2 menunjukkan tokoh-tokoh yang sifatnya bersusunkan hirarki. Ya seperti tangga,
ada yang tingggi danada yang rendah. Lihat aja tokoh Bayu mulai dari sekuel
pertamanya hingga yang kedua ini sifatnya sangat dominan di antara tokoh yang
lain (ya..iya lha …lha wong dia memang pemeran utamanya). Tapi di poin ini yang
ingin aku angkat bagaimana si penulis sepertinya memberikan tingkatan pada para
tokoh-tokohnya ada yang KW 1, KW 2, KW 3……. Bukan berarti para aktor dan
aktrisnya KW juga lho..hehehe. Oposisi biner (istilah sastra gitu biar keliatan
klo mantan mahasiswa sastra…hehe) yang coba ditunjukkan bukanlah “penabrakan”
konflik si Bayu dengan teman-temannya, meskipun ada tapi itu hanya minor aja,
kebanyakan bagaimana si Bayu berkonflik dengan diri sendiri. Kembali lagi, pada
susunan hirarki pada tokoh-tokoh di film ini, sepertinya penulis mencoba untuk
membuat karya satir dengan kemasan yang apik. Di sini pemain tunggal, Bayu
punya andil yang besar untuk membawa alur cerita sedang yang lainnya hanya penggembira.
Semua ada di bawah kendali dia. Pemain lain sepertinya tidak punya andil untuk
ikut serta dalam membawa alur cerita pada klimaks. Cerminan ini lha yang
mungkin bisa dijadikan sebuah sindiran bagi Negara ini terutama para penguasa
sepak bola Indonesia yang hanya bisa duduk di belakang meja tanpa melihat
bagaiman di lapangan. Bagi yang berkedudukan tinggi, maka dia lha yang
mengendalikan cerita sepak bola di
negeri ini. Saking sibuknya “mengatur” dan “bertikai” atas nama kemajuan bola
sepak, akhirnya perkembangan olahraga yang merakyat ini hanya jalan ditempat
dan tarik ulur. Ya itulah Garuda itu “hanya” ada di dadaku bukan ada di hatiku.
Kemudian apa yang saya katakan di awal, film ini berdasarkan mimpi kenyataan,
di alur cerita kita menang akan Malaysia dan Thailand. Ya kita pernah menang
dari kedua negara itu tapi kita juga banyak kalahnya juga dengan gajah putih dan Negara plagiat. Yang aku
sayangkan adalah kenapa film ini hanya bercerita timnas kita hanya menang di
tingkat ASEAN aja (mungkin kalau sampai piala dunia kelamaan kale durasinya....dibuat
sinetron aja…wahhh jangan dehh kalau jadi sinetron bahaya…..bingung malah an
ceritanya dan pasti mbuletisasi..hehehe).
kebanyakan film-film kita hanya film yang berdasarkan apa yang ada di sekitar
kita, pasti ceritanya tidak jauh berbeda dengan kondisi Negara kita. Tapi
apakah salah kita kalau punya film dengan mimpi yang tinggi contohnya The Chronicle of Kabayan in World War atau
kalau tidak yang ini Unyil and The
Avengers…….haha terlalu ngayal kale…tapi ga apa lha namanya aja wong
bermimpi who knows it’ll be real. Okay
kayaknya udah sangat panjaan abisss.. ini hanya tulisan orang awam lhooo…..ga
usah di bawa serius…….satu kata untuk negaraku: JAYALAH INDONESIA……
Komentar
Posting Komentar